Review Game Marvel’s Avengers

20 tahun yang lalu kalian mungkin tak akan menemukan satupun orang yang akan percaya bahwa di suatu saat mereka akan melihat superhero yang tumbuh menemani mereka.

Seperti nama yang diusung, Marvel’s Avenger tentu saja bercerita tentang tim Avengers itu sendiri, yang di game ini tak memiliki hubungan dengan komik ataupun Marvel Cinemated Universe yang notabene nya lebih populer.

Mereka datang dengan cerita original yang berdiri sendiri tanpa keharusan untuk menikmati media yang lain.

Yang kalian butuhkan untuk menikmatinya hanyalah pengetahuan dasar apa itu Avengers dan siapa saja karakter yang mengisinya, mengingat tidak seperti sang versi layar lebar yang notabene melepas film khusus untuk masing – masing karakter ini, Crystal Dynamics langsung menawarkan kisah dimana mereka sudah berkolaborasi sebagai Avengers.

Kisah Avengers bermulai dari A-Day, sebuah hari istimewa untuk para Avengers yang hendak merayakan lahirnya Helicarrier terbaru mereka bernama “The Chimera” yang kali ini, akan ditenagai oleh sumber tenaga baru bernama Kristal Terrigen.

Namun seperti yang bisa diprediksi, hari yang seharusnya damai ini ternyata berujung jadi bencana besar.

The Chimera diserang oleh pasukan yang dipimpin oleh Taskmaster, menimbulkan kehancuran yang masif, berujung pada begitu banyak korban harta dan jiwa yang begitu besar, termasuk Captain America sendiri. Namun konsekuensi ini tidak berhenti sampai di sana.

Kehancuran The Chimera yang ditenagai Kristal Terrigen ternyata menghasilkan efek samping bernama Kabut Terrigen.

Mereka yang terpapar kabut ini kemudian mulai memperlihatkan simtom kemampuan super yang berbeda satu sama lain, dari yang mampu menghasilkan dan melemparkan api, menghasilkan klon, hingga kekuatan fisik jauh di atas manusia yang seharusnya.

Kelompok manusia ini disebut sebagai “Inhumans”. Dianggap sebagai biang keladi dari kehancuran dan masalah yang terjadi, Avengers pun tidak lagi beroperasi, tersebar, dan berujung menghilang.

Di tengah lowongnya posisi mereka, sebuah perusahaan teknologi bernama AIM di bawah pimpinan George Tarleton mengemuka.

Melindungi kota dengan robot super cerdas, AIM juga berjanji akan menemukan penyembuh untuk membuat para Inhumans kembali menjadi manusia.

Anda akan menikmati sebagian besar kisah Marvel’s Avengers dari kacamata seorang Kamala Khan – seorang fans Avengers yang juga, seorang Inhumans.

Menemukan sebuah rekaman video super rahasia dari AIM yang mengindikasikan bahwa kematian Captain America di A-Day bukanlah sekadar “kecelakaan” belaka, Kamala kini berujung diburu.

Di tengah kondisi pelik ini, dengan tidak ada lagi solusi lebih rasional, ia ingin berbagi informasi penting yang ia dapatkan dengan para anggota Avengers yang keberadaannya misterius.

Pelan tapi pasti, Kamala berupaya untuk membuat tim superhero ini kembali relevan sembari membongkar rencana jahat yang tengah ditempuh oleh AIM.

Jika dibandingkan dengan proyek game AAA yang lain, penilaian gamer untuk urusan presentasi Marvel’s Avengers memang sempat memancing reaksi keras, terutama untuk trailer perdana yang dilepas.

Popularitas MCU memang membuat banyak gamer kini “terbiasa” dengan wajah dan suara pemeran di dalamnya, yang notabene punya asosiasi yang kuat.

Masa beta yang sempat diselenggarakan Square Enix juga tidak memberikan kontribusi positif, apalagi dengan motion blur berlebihan yang kami rasakan sendiri di versi konsol.

Berita baiknya? Semua ketakutan tersebut bisa disebut mereda di versi final Marvel’s Avengers itu sendiri.

Itulah review lengkap dari game Marvel’s Avengers. Semoga artikel ini dapat berguna dan bermanfaat.